Dari MOSA menuju Amerika

OLEH CEUDAH HAJASHAFIRA, Siswi SMAN Modal Bangsa Aceh, sedang ikut Pertukaran Pelajar Bina Antarbudaya/YES di Kedallville, melaporkan dari Indiana, Amerika Serikat

SETELAH melalui berbagai tahapan seleksi yang cukup panjang, saya akhirnya termasuk dalam 85 pelajar Indonesia yang mendapat beasiswa penuh dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui program KL-YES. Awal Agustus lalu, kaki pertama kali saya injakkan di Negeri Paman Sam ini bersama teman-teman lainnya dari Indonesia.

Setelah menjalani beberapa hari orientasi di Washington DC, kami berangkat ke state masing-masing untuk bertemu keluarga angkat. Saya mendapatkan keluarga angkat di Kendallville, Indiana. Sebuah kota kecil dengan ladang jagung dan kedelai yang dapat kita temui dengan mudah. Seperti halnya menemukan sawah di Blang Bintang, Aceh Besar, tempat SMA asal saya berada. Kedua orang tua angkat saya merupakan pastor dengan dua putri, berumur enam dan tiga tahun. Memang awalnya timbul kekhawatiran ketika tahu bahwa saya yang seorang muslim akan tinggal bersama pastor. Tapi sekarang, saya malah bersyukur. Mereka toleran dan sangat mengerti ketika saya jelaskan hal-hal yang saya lakukan dan hindari karena alasan agama.

Saya jadi teringat, pernah ada seseorang yang menyuruh saya membatalkan niat saya untuk pergi ke AS, karena akan sangat sulit melaksanakan ibadah dan sangat jarang ada daging halal. Namun, saya bersyukur karena tetap mengikuti tekad untuk berangkat. Memang hidup di sini tak semudah saat kita berada di negara mayoritas Islam, apalagi Aceh yang masjid dan mushalanya tersebar di mana-mana. Namun, bukan berarti tidak mungkin. Bukankah bumi ini milik Allah? Jadi, menurut saya, kita tetap bisa melaksanakan ibadah di mana pun kita berada. Saya selalu mambawa mukena beserta sajadah ke mana pun pergi dan toilet sangat mudah ditemui.

Tentang makanan, masih banyak jenis makanan lain selain daging yang dapat dikonsumsi. Lagi pula sesekali keluarga angkat saya membeli daging halal di kota besar terdekat. Menjadi seorang siswa pertukaran pelajar tidaklah mudah, apalagi sebagai seorang minoritas.

Saya bersekolah di East Noble High School, dengan jumlah siswa kurang hampir 2.000 orang. Sebuah sekolah yang cukup besar jika dibandingkan dengan sekolah saya di Aceh, SMAN Modal Bangsa Aceh dengan jumlah siswa yang kurang dari empat ratus orang. Jarak sekolah dengan rumah keluarga angkat saya cukup dekat, sehingga saya dengan mudah pulang pergi sekolah dengan berjalan kaki.

Guru-guru di sini cukup ramah dan dengan senang hati menjelaskan kembali materinya ketika ada siswa yang tak mengerti. Murid-murid di sini juga cukup baik dan akan berusaha membantu semampu mereka jika saya meminta tolong. Misalnya, sudi mengantarkan saya ke kelas, terutama pada minggu pertama sekolah, karena dengan gedung yang cukup luas ini, saya pernah tersesat di hari pertama sekolah.

Yang patut dicontoh adalah kebiasaan murid di sini saat mengikuti tes. Setiap murid benar-benar mengerjakan tes berdasarkan kemampuan masing-masing. Mereka benar-benar melakukan tes untuk mengukur sejauh mana kemampuan mereka di setiap materi. Bahkan di kelas Fisika, kami mengerjakan tes dengan keadaan duduk berkelompok sebagaimana biasanya, namun tetap saja tidak ada yang berniat untuk melirik lembar jawaban teman di samping. Sangat jujur.

Namun, mencari teman di sini tidak semudah di Indonesia. Bayangkan jika ada siswa pertukaran pelajar yang datang ke sekolah kita di Indonesia, apalagi di Aceh, pasti hampir seluruh siswa di sekolah cukup excited dan ingin berkenalan dengan siswa baru tersebut. Namun, di sekolah saya di sini, murid pertukaran pelajar merupakan hal biasa.

Bagaimana dengan penampilan saya yang memakai kerudung? Bukannya itu membuat mereka tertarik karena sangat terlihat berbeda? Di sekolah saya ini, sudah ada beberapa murid muslim yang sebagian besar berasal dari Yaman. Jadi, sudah biasa bagi mereka melihat siswi berhijab lalu-lalang di pekarangan sekolah. Maka dari itu, sayalah yang harus pintar-pintar memulai percakapan dan memperkenalkan diri, ikut aktif di sekolah dan berbaur. Salah satu cara saya berbaur adalah dengan mengikuti klub yang dilaksanakan setelah jam sekolah usai. Klub merupakan tempat yang tepat untuk mencari teman, terutama klub olahraga. Saya ikut girls soccer club. Saya sebenarnya tak begitu mengerti tentang soccer. Tapi tujuan saya ikut klub ini karena ingin mencoba hal baru dan bisa mendapatkan lebih banyak teman.

Saat ada pertandingan soccer, biasanya kami baru selesai pukul 8 atau 9 malam. Ini mengharuskan saya mencari cara untuk shalat Ashar dan Magrib di sela pertandingan. Saya pun minta izin kepada pelatih dan mencari tempat yang layak untuk shalat. Pelatih kami menanggapi positif dan memberi saya izin untuk pergi sejenak jika waktu shalat tiba. Sering kali ada saja salah satu teman yang menemani saya mencari tempat shalat. Mereka sangat membantu. Saya merasa hari-hari yang saya lalui di sini begitu barharga, menjadi duta bangsa dan agama sekaligus. Dapat memperkenalkan Indonesia dan menjelaskan Islam kepada orang-orang di sini. Dapat merasakan betapa bermaknanya lagu-lagu nasional, merasa bersyukur dan lega begitu selesai menunaikan shalat. Perasaan yang tak pernah saya dapatkan sebelumnya.

http://aceh.tribunnews.com/